Kamis, 12 Maret 2009
Elegi orang tua berambut putih menggapai batas
Menurut pandangan saya dari segi matematika, elegi seorang tua berambut putih menggapai batas adalah suatu pemodelan matematika. Yang disebut dengan Aku dalam elegi ini menurut saya adalah Aku tetapi juga bukan Aku. Aku yang dimaksud adalah Aku melihat diriku yang lain yaitu Aku.Dari sudut pandang matematika, kita misalkan Aku adalah x1. x1 disini menyatakan banyaknya orang tua berambut putih. Saat Aku (orang tua berambut putih) duduk sendiri, maka Aku adalah x1=1.Kemudian ketika orang tua berambut putih yang ke-2 datang (orangtua berambut putih 2 adalah 1), ia menjumpai orang tua berambut putih yang sedang duduk yang tak lain adalah dirinya tetapi bukan Aku. Ia melihat, orang tua berambut putih 1 bertengkar dengan dirinya sendiri. Dapat dituliskan : X2=X1 + 11 disini adalah orangtua berambut putih 2 yang sedang bersama orang tua berambut putih 1.Sehingga : x2 = x1 + 1x2 = 1 + 1x2 = 2Sehingga jumlah orang tua berambut putih sekarang ada 2.Kemudian, orang tua berambut putih 3 (orang tua berambut putih 3 adalah 1) datang, ia menjumpai ada 2 orang tua berambut putih sedang berkelahi dan ia juga melihat dirinya sendiri.Dapat dituliskan : x3=x2 + 11 disini adalah dirinya sendiri yang saat itu bersama 2 orang tua berambut putih. Sehingga : x3 = x2 + 1x3 = 2 + 1x3 = 3Sehingga jumlah orang tua berambut putih ada 3.Sehingga jika orang tua berambut putih n datang, maka ia akan melihat n-1 orang tua berambut putih sedang berkelahi dan dirinya sendiri.
Senin, 09 Maret 2009
REFLEKSI DENGAN FILSAFAT
Berefleksi ibaratnya bercermin, jika seorang berefleksi maka dia akan melihat dirinya sendiri tetapi di tempat yang lain. Apakah perlu manusia bercermin ? Manusia bercermin untuk intropeksi dirinya sendiri. Yang tak lain adalah dirinya di masa lampau. Untuk bisa berintropeksi, manusia perlu tahu tentang dirinya sendiri. Sehingga akan mengetahui apa itu sejatining urip (sejatinya hidup). Seseorang yang telah berintropeksi/bercermin maka dia akan menjadi manusia yang baru. Artinya telah terjadi perubahan dalam dirinya atau yang disebut dengan kedewasaan. Masa lalu itulah yang disebut dengan kenangan. Kenangan sendiri adalah kejadian di masa lalu yang mendewasakan kita. Hari ini adalah kenyataan bahwa kita hidup menghirup udara pagi dan akan melakukan semua yang telah direncanakan. Dan hari esok adalah tantangan yang kita tidak tahu apa yang terjadi di hari esok. Tetapi tantangan tidak hanya hari esok, 1 detik lagi mungkin tantangan bagi kita, 1 menit, 1 jam lagi mungkin tantangan bagi kita.
Seorang pawang gajah melatih menjinakkan gajah ketika gajah tersebut masih kecil. Gajah yang masih kecil itu kemudian dirantai kakinya. Karena kondisinya masih lemah, bayi gajah hanya bisa berjalan sejauh rantai. Biasanya bayi gajah akan mencoba melarikan diri. Namun karena masih kecil dan tenaganya masih lemah, tentu saja kekuatan rantai baja itu tidak bisa dikalahkan. Hal ini dilakukan bertahun-tahun sampai tertanam dalam benak gajah itu bahwa ia tidak akan mampu untuk memutuskan rantai yang mengikat kakinya. Dengan demikian sang pawang bisa membawa gajah diladang atau hutan tanpa kuatir gajah akan melarikan diri.(disadur dari profesional MAXIMING YOUR POTENTIAL).
Hal itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Jika selama ini kita membiarkan kita terbelenggu pada pengalaman masa lalu, tanpa sedikit pun keberanian untuk menyadarinya. Maka jangan salahkan siapa-siapa jika kita tidak mampu untuk melepaskan diri dari penyesalan. Ketika kita terbelenggu pada suatu, teruslah untuk melepaskan diri dari belenggu.
Filsafat artinya mencintai kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah sesuatu yang sangat tinggi nilainya. Seseorang yang kebijaksanaan pasti adalah orang yang telah dewasa. Ia tidak menginginkan kekayaan, wanita, ataupun kenikmatan duniawi. Tetapi ia akan mencari kedamaian hidup. Seseorang yang bijaksana akan dipermuliakan dengan sendirinya karena kebijaksanaannya. Karena kebijaksanaan berasal dari Sang Pencipta. Seperti halnya Raja Salomo yang lebih memilih kebijaksanaan dari pada kenikmatan duniawi. Ia pun dipermuliakan Tuhan dengan menambahkan kekayaan dan kemuliaan.
Jika selama ini kita masih terkurung dalam tembok bayang-bayang diri kita yang lama. Yang tidak mau untuk menerima sesuatu yang baik bagi diri kita. Kita tidak perlu menghancurkan tembok(manusia lama) itu. Tetapi lubangilah tembok itu dan biarkanlah angin kebijaksanaan memasuki ruangan di dalam tembok sehingga kita dapat melihat kebenaran. Sesorang yang terkurung dalam tembok, ia tidak akan mengetahui apa yang ada di luar tembok. Jika ada lubang di tembok, maka kita akan mengetahui sesuatu yang ada di luar tembok. Lubang itu berguna untuk menahan kepalsuan yang mungkin ada di luar tembok. Tetapi jika kebenaran itu ada di luar, biarkanlah ia masuk melalui lubang itu.
Lalu siapakah diri kita ? manusia yang manakah kita ? Alangkah baiknya kita bertanya pada diri kita Who am I.
Seorang pawang gajah melatih menjinakkan gajah ketika gajah tersebut masih kecil. Gajah yang masih kecil itu kemudian dirantai kakinya. Karena kondisinya masih lemah, bayi gajah hanya bisa berjalan sejauh rantai. Biasanya bayi gajah akan mencoba melarikan diri. Namun karena masih kecil dan tenaganya masih lemah, tentu saja kekuatan rantai baja itu tidak bisa dikalahkan. Hal ini dilakukan bertahun-tahun sampai tertanam dalam benak gajah itu bahwa ia tidak akan mampu untuk memutuskan rantai yang mengikat kakinya. Dengan demikian sang pawang bisa membawa gajah diladang atau hutan tanpa kuatir gajah akan melarikan diri.(disadur dari profesional MAXIMING YOUR POTENTIAL).
Hal itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Jika selama ini kita membiarkan kita terbelenggu pada pengalaman masa lalu, tanpa sedikit pun keberanian untuk menyadarinya. Maka jangan salahkan siapa-siapa jika kita tidak mampu untuk melepaskan diri dari penyesalan. Ketika kita terbelenggu pada suatu, teruslah untuk melepaskan diri dari belenggu.
Filsafat artinya mencintai kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah sesuatu yang sangat tinggi nilainya. Seseorang yang kebijaksanaan pasti adalah orang yang telah dewasa. Ia tidak menginginkan kekayaan, wanita, ataupun kenikmatan duniawi. Tetapi ia akan mencari kedamaian hidup. Seseorang yang bijaksana akan dipermuliakan dengan sendirinya karena kebijaksanaannya. Karena kebijaksanaan berasal dari Sang Pencipta. Seperti halnya Raja Salomo yang lebih memilih kebijaksanaan dari pada kenikmatan duniawi. Ia pun dipermuliakan Tuhan dengan menambahkan kekayaan dan kemuliaan.
Jika selama ini kita masih terkurung dalam tembok bayang-bayang diri kita yang lama. Yang tidak mau untuk menerima sesuatu yang baik bagi diri kita. Kita tidak perlu menghancurkan tembok(manusia lama) itu. Tetapi lubangilah tembok itu dan biarkanlah angin kebijaksanaan memasuki ruangan di dalam tembok sehingga kita dapat melihat kebenaran. Sesorang yang terkurung dalam tembok, ia tidak akan mengetahui apa yang ada di luar tembok. Jika ada lubang di tembok, maka kita akan mengetahui sesuatu yang ada di luar tembok. Lubang itu berguna untuk menahan kepalsuan yang mungkin ada di luar tembok. Tetapi jika kebenaran itu ada di luar, biarkanlah ia masuk melalui lubang itu.
Lalu siapakah diri kita ? manusia yang manakah kita ? Alangkah baiknya kita bertanya pada diri kita Who am I.
Langganan:
Postingan (Atom)
