ELEGI DAN JARGON MENURUT PERSEPSIKU
Elegi, mungkin pertamakali membaca kata ini kita akan bingung dengan artinya. Apa itu Elegi ? apakah itu puisi ? ataukah cerita ? ataukah pesan ? ataukah imajinasi?
Mungkin masih banyak lagi pendapat-pendapat apa itu Elegi.
Tanggal 11 Mei 2009, barulah saya tahu apa itu Elegi.Walupun sebelumnya saya mempunyai definisi sendiri apa itu Elegi. Bapak Marsigit, seorang penulis blog menulis di blognya. Menurut beliau Elegi adalah Nyanyian susah. Dari artinya saja masih susah dimengerti. Lalu beliau mengatakan, Elegi digunakan untuk menggambarkan betapa susahnya memahami isi karyanya.
Tujuannya untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat.
Banyak orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat. Dengan elegi, Beliau membuat filsafat dekat sekali dengan kita. Beliau mengatakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi, beliau ingin berusaha menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia.
Elegi muncul karena sebagai kebutuhan. Beliau merasa perlu mengembangkan komunikasi filsafat dalam bentuk yang netral, tidak menyuruh, tidak memaksa, lebih bersifatempati tetapi tetap memuat tesis-tesis filsafat.
Sumber membuat elegi antara lain : pertama yang dari pelakunya atau disebut sumber primer . Jika sumber itu merupakan penuturan dari orang lain, maka sumber tersebut disebut sumber seconder (kedua).
Elegi-elegi juga disusun berdasarkan refleksi pengalaman beliau.
Dalam elegi-elegi, sumber pertama dan kedua adalah sebagai inspirasi. Sedangkan yang paling pokok dan paling banyak adalah refleksi pengalaman setelah membaca filsafat dan mengalami kehidupan langsung.
Metode yang digunakan untuk menyusun elegi antara lain: bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi, menterjemahkan dan diterjemahkan.
Beberapa elegi ada yang terkesan kontradiksi. Alasannya karena hidup adalah kontradiksi. Hakekat berubah dan hakekat diam itu kelihatannya kontradiksi. Tetapi keduanya itu ada. Jika ada seseorang hanya berhenti sampai hakekat perubahan saja, karena hal yang demikian berarti dia hanya berpikir parsial.
Tujuan utama atau visi dibuatnya elegi.
Elegi dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka mahasiswa matematika memerlukan kemampuan memperbincangkan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai seorang guru, maka perlu mempunyai keterampilan memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Yang dimaksud sebagai memperbincangkan adalah bukan subyek yang bicara, bukan dosen yang bicara, bukan guru yang bicara. Jika mereka itu yang bicara, maka bicaranya bersifat otoriter, merayu, membujuk atau memaksa para siswa untuk percaya. Tetapi yang bicara adalah para obyek, para mahasiswa dan pada siswa serta semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebetulnya yang ada dan yang mungkin ada itu berhak bicara. Jika anda telah mampu memperbincangkan mereka maka kemampuanmu itu mempunyai dimensi setingkat lebih tinggi.
Yang ada dan yang mungkin ada itu adalah obyek kajian filsafat.
Satu-satunya kelemahan atau sisi kekurangan elegi adalah jika elegi digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya.
Elegi itu hanya untuk sarana berpikir filsafat. Jadi porsinya memang perlu dibatasi. Dia juga bukan suatu topik pembelajaran. Jadi elegi itu tidak cocok untuk digunakan pada pembelajaran disekolah. Tetapi substansinya itulah yang di ambil.
Yang dimaksud substansi adalah seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Maka guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Maka guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras.
Elegi menurut saya adalah suatu tulisan memperbincangkan yang mungkin ada dan yang mungkin tidak ada. Objek perbincangan bisa bermacam-macam, bisa orang atau benda atau apa saja. Sehingga Elegi dapat sebagai alat untuk menyampaikan suatu pemikiran atau pesan atau saran atau kritikan. Sehingga orang yang membaca tidak akan langsung tersinggung, tetapi akan mencoba menyelami maksud dari Elegi. Ketika seseorang mencoba menyelami maksud dari tulisan Elegi, maka dia akan mencoba mengaitkan segala sesuatu yang pernah dipalajari atau dialaminya. Sehingga tidak jarang, dengan adanya Elegi kita dapat mengetahui apa kesalahan-kesalahan kita.
Lalu apa yang kita dapatkan dari Elegi ini ?
Ya, mungkin sebagian besar menjawab Ilmu, pesan-pesan dll.
Elegi adalah buah dari pemikiran, jadi Elegi adalah objek pikir. Jadi Elegi itu sebenarnya adalah Jargon. Ketika kita ditanya, apa kamu sudah membaca Elegi yang terbaru ? Maka orang yang pernah membaca Elegi akan menjawab Elegi yang terbaru adalah Elegi ini. Karena dalam pikiran kita sudah tertanam, Elegi itu adalah tulisan dalam blognya Bapak Marsigit. Kata Elegi itu adalah Jargon yang diciptakan Bapak Marsigit, sehingga dalam diri kita akan tertanam bahwa Elegi adalah karangan Bapak Marsigit dan bisa dibaca diblognya.
Di dalam Elegi tersebut, ada juga Jargonnya. Antara lain, Orang tua berambut putih. Jika kita ditanya, siapa orang tua berambut putih? Jawabannya pasti orang tua berambut putih yang ada diblognya Bapak Marsigit.
Jargon menurut Wikipedia adalah istilah khusus yang dipergunakan di bidang kehidupan (lingkungan) tertentu.
Dari definisinya juga sudah membuat kita bingung sama seperti definisi Elegi. Jargon sangat dekat dengan kehidupan kita, kadang-kadang kita selalu menggunakan Jargon itu.
Contohnya : Adik sedang makan indomie. Indomie yang dimaksud mungkin adalah mie. Tetapi karena sudah tertanam dalam pikiran kita, bahwa menyebut mie adalah indomie. Tetapi bisa sajakan yang dimakan adik kita bukan Indomie, bisa saja mie apa. Karena mie itu macam-macam merknya tidak hanya Indomie. Atau contoh lain, Ayah pergi naik Honda. Mungkin yang dimaksud adalah motor. Tetapi karena sudah tertanam dalam pikiran kita, jika Honda adalah sebutan untuk motor. Maka kita selalu menggunkannya untuk menyebut motor. Barangkali jika ada orang Jepang yang tahu, pasti marah-marah karena Honda (nama orang) dinaikin untuk berpergian.
Sekarang kita mengetahui, Elegi dan Jargon sangat dekat dengan kehidupan kita. Dengan adanya Elegi dan Jargon, kita dapat relefleksikan diri bahwa diri kita mempunyai potensi yang sangat besar jika mau mengembangkan dan kita dapat mengoreksi diri dari kehidupan yang telah kita jalani sampai saat ini. Kita jadi mengetahui kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, mungkin juga kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari. Ya sama dengan Jargon tadi. Kita tahu kesalahan-kesalahan kita, apakah kita akan terus mengulanginya terus atau akan berubah menjadi orang yang lebih baik (Logos).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar